Perjalanan dari Sebuah Kopiah dan Sarung milik pak syukur: Fiksi Islami Penuh Makna

Ilustrasi gambar diedit oleh kapwing.
Credits: Pixabay.com



Assalamualaikum wb sahabat embun di balik jendela!, kali ini kita masuk ke episode ke 4.Setelah sebelumnya kita sudah membaca tentang kisah sahur terakhir diujung genteng, Sukabumi , kali ini kita akan melewati sebuah perjalanan unik dari sebuah kopiah dan sarung milik Pak Syukur, seorang tokoh yang penuh misteri dan hikmah. Kisah fiksi Islami ini, dijamin akan menyentuh hati dan memberikan renungan mendalam tentang makna hidup dan bagaimana kita terus berbagi kepada sesama.
Selamat membaca dan semoga bermanfaat..

Di pojok lemari Pak Syukur, terdapat dus benda yang terlihat cukup tua dan usang.
Benda tersebut adalah Kopiah usang dan Sarung batik tua yang bersebelahan. Setelah Pak Syukur tidur, Kopiah berdehem pelan.
 
Eh, Sarung,” 

gumam Kopiah, suaranya serak seperti kertas kering.

Kopiah: "Masih inget nggak waktu Bapak baru beli kita? Wangi banget, baru dicuci. Aku masih tegang waktu itu."
 
Sarungnya sedikit bergeser, kainnya berdesir. 

Sarung: "Inget banget! Aku juga masih kaku waktu itu. Warnanya, aduh... sekarang mah udah pudar semua. 
 Tapi Bapak selalu bilang, 'Kalian tetap berharga, meski sudah usang'."
 
Kopiah menggeliat, seolah meringis.

 Kopiah: "Iya, nih. Udah kusam. Tapi, Bapak masih sayang banget sama kita ya? Kadang aku merasa, Bapak lebih sering ngobrol sama kita daripada sama orang lain."
 
Sarung tertawa, suara gemerisiknya terdengar seperti tawa pelan. 
Sarung: "Iya, juga. Kadang-kadang Bapak cerita tentang panennya, tentang tetangga-tetangga. Atau tentang cucunya, Aisyah. Bapak sering usap-usap kita sambil berdoa. Dia selalu bilang, hidup itu sederhana, Sarung. Yang penting ikhlas dan selalu bersyukur.
 
Kopiah jadi teringat kejadian beberapa waktu lalu.

Kopiah: "Eh, inget nggak waktu aku hampir hanyut di sungai? Deg-degan banget waktu itu! Bapak sampai nangis waktu nemuin aku lagi."
 
Sarung: "Inget! Untung ada Aisyah ya? Anaknya baik banget. Aku juga pernah hampir ilang di sawah, mengumpulkan Budi nemuin. Waktu itu Bapak peluk kita berdua erat-erat, kayak ngerasa kehilangan sesuatu yang berharga. Dia selalu bilang, setiap kejadian pasti ada hikmahnya.”
 
Kopiah : "Iya, bener. Mereka berdua baik banget. Kayak embun pagi, menyejukkan hati. Bapak selalu bilang, kebaikan itu akan kembali. Dan Bapak selalu mencontohkannya."
 
Kopiah diam sejenak. Lalu berkata 

"Kita ini, Sarung, udah kayak anak Bapak sendiri ya? Dia selalu mengajarkan kita tentang kesabaran, keikhlasan, dan selalu bersyukur."
 
Sarung menjawab : "Iya, bener banget nih. Kita udah liat Bapak berbagi sama orang lain, sabar ngejalanin hidup. Bapak itu orang baik, Kopiah. Dia selalu mencium kita sebelum sholat, dan selalu berdoa sebelum tidur."
 
Kopiah : "Semoga kita bisa jadi pengingat buat Bapak, ya, buat selalu deket sama Allah," kata Kopiah, suaranya terdengar khusyuk.
 
Sarung mengangguk pelan. 

Sarung: "Amin... Semoga Bapak selalu sehat, panjang umur, dan selalu dalam lindungan Allah. Dan semoga kita bisa terus menemani Bapak sampai akhir hayatnya. Hidup Bapak mengajarkan kita banyak hal, Kopiah." Kedua benda tersebut diremehkan, hanya suara jangkrik yang terdengar di kenyamanan malam. Mereka berdua Kopiah dan Sarung tua itu, hanya bisa berdoa dalam diam, untuk Pak Syukur, pemilik yang baik hati dan sangat menyayangi mereka. Kehidupan Pak Syukur, sederhana namun sarat makna, menjadi teladan bagi mereka berdua.

Setelah kalian semuanya membaca kisah ini, apa yang paling menginspirasi Anda dari kehidupan Pak Syukur? Bagaimana kita dapat meneladani kebaikan dan betapa kecilnya beliau dalam kehidupan sehari-hari? Silakan bagikan pendapat Anda di kolom komentar yang sudah tersedia.
Sekian dan terima kasih!
Barakallah ✍️✍️


Kalian semuanya juga dapat membaca kisah ini pada akun Wattpad saya,dan 
berikut ini merupakan linknya :



Komentar